Keren SD Kelas 2 Sudah Merantau

Keren SD Kelas 2 Sudah Merantau
Gambar ilustrasi
Sumber foto Edi Ginting, lihat di sini

CAPE MAKAR: Judul tulisan ini seperti menipu para pembaca maafkan saya jika kesannya seperti itu. Awalnya saya ingin menulis judul seperti ini, “SD Kelas 2 sudah keluar dari Rumah” karena judul tersebut menggambarkan isi tulisan yang saya ceritakan. Namun saya berpikir judul tersebut kurang menarik jadi diganti seperti judul yang ada saat ini.

Mohon dimaklumi karena saya masih pemula dunia kepenulisan dan blogging. Baiklah pembaca sekalian, jika berkenan mari simak lebih lanjut catatan perjalanan saya di Papua berikut ini.

Sejujurnya saya tidak tahu atau tepatnya sudah lupa kenapa di usia 7 tahun dan masih SD kelas dua saya meninggalkan orang tua dan lebih memilih tinggal dengan orang lain. Namun seingat saya (muda-mudahan tidak salah), saat itu alasannya karena sekolah jauh dari rumah sehingga saya harus tinggal dengan kakak Man Parera. Masih saudara meski berbeda kampung.

Tinggal di rumahnya kakak man, saat itu beliau bujang banyak pelajaran yang didapat. Salah satunya belajar masak dan belajar melayani.

Hal ini bisa dimaklumi karena tempat tinggal kakak man menjadi tempat berkumpulnya anak muda perantauan dari timur (semuanya laki-laki). Semantar saya yang paling kecil di situ. Beli rokok, kopi, gula, dan aneka kebutuhan lain di kios (sebutan untuk warung, kata orang Jakarta) menjadi rutinitas saya hampir setiap hari.  

Melalui cara seperti ini secara tidak langsung saya belajar untuk melayani orang lain.

Kemudian situasi mengharuskan saya untuk bisa memasak. Sebenarnya cukup sulit bagi saya saat itu. Namun bertahan dalam situasi yang mengurangi waktu bermain saya sebagai anak kecil manfaatnya saat ini kurasakan. Setidaknya saya bisa masak, meski kata istri saya tidak enak itu bukan masalah yang serius, hehe. Selain itu saya pun belajar melayani, meski belum lulus sepenuhnya sebagai pelayan namun setidaknya saya belajar bagimana melayani orang lain.

Sunggu ini pendidikan yang tidak saya peroleh di bangku kuliah atau sekolah formal, tetapi perjalanan saya selanjutnya sebagai perantau saya bisa mandiri, (bukan mandi sendiri maksudnya), termasuk bisa masak, minimal untuk diri sendiri. Terima kasih kakak Man Parera dan situasi hidup yang telah mengajarkan saya pengalaman hidup yang sangat berarti.

Baca juga:


Masuk SD di Papua Hanya Papan yangKulihat Bukan Sekolah
 

Refleksi

1. Hidup tidak berjalan mundur, tidak pula berada di masa lalu, penggalan kata pujangga Libanon, Khalil Gibran itu seperti mengamini masa kecil yang saya alami dan kondisi terkini (sebagai guru di Jakarta). Dua kondisi yang sunggu jauh berbeda. Artinya saya ingin katakana apapun kondisi pembaca saat ini. Susah, masalah, atau situasi sulit yang lain; percayalah bahwa semua pasti berlalu karena hidup seperti roda yang berputar. Semuanya pasti lebih baik di masa depan JIKA MAU BERUSAHA DAN KERJA KERAS; dan tentunya tidak pernah lupa berserah kepada yang maha kuasa (baca: berdoa).

2. Kunci untuk sebuah perubahan adalah sabar dalam situasi sulit. Sabar hanyalah kata tanpa makna, dia akan bermakna jika kita bisa mempraktekannya dalam hidup. Semoga bermakna. (Makar admin blog Gubanesia).



Baca juga:



Masuk SD di Papua Hanya Papan yang Kulihat Bukan Sekolah

 Masuk SD di Papua Hanya Papan yang Kulihat Bukan Sekolah
CAPE MAKAR: Pernah berseragam merah putih, khas anak SD di Detunglikong tidak terhitung karena meninggalkan Detunglikong kalau tidak salah sebelum penerimaan rapor. Jadi status pernah SD kelas satu tidak terhitung dan saya pun harus memulainya lagi dari nol. Mendaftar dan masuk SD di SD Inpres Tajah SP V, distrik Tajah Lereh, (sekarang namanya jadi Distrik Yapsi) Kabupaten Jayapura Papua.

Hari pertama masuk sekolah, sejujurnya saya bingung dan bertanya-tanya, “sekolahnya di mana si” karena kami berbaris di di depan bekas barak karyawan PT Kayu Lapis yang membuka lokasi transmigrasi. Sebuah kamp yang terbuat dari kayu seadanya saja.

Usai upacara pembukaan tahun ajaran baru barulah saya tahu kalau itu adalah sebuah sekolah. Sebuah kamp bekas tempat tinggal karyawan suatu perusahan.

Sunggu ironis pemerintah kita saat itu (tahun 1992), mendatangkan orang dengan judul transmigrasi tetapi sekolah tidak disiapkan. Untuk apa?, pemikiran ini muncul saat saya sudah menjadi guru dan mengajar di Jakarta.    

Baca juga:



Refleksi

Jangan langsung mempertanyakan, apa, mengapa, atau bagimana terhadap segala sesuatu yang mengganjal di hati. Simak, ikuti dan pelajari dulu. Setelah itu barulah simpulkan sebagai pandangan awal; selanjutnya tentang kebenaran pandangan yang seperti itu butuh konfirmasi lebih lanjut agar suatu pandangan tidak menjadi pertanyaan yang tidak pernah dijawab selamanya. (Makar admin blog Gubanesia)


Baca juga:





Perjalanan Saya Pertama Kali Ke Papua Memberi Kesan Negatif


Bandara Sentani Jayapura Papua, Perjalanan Saya Pertama Kali Ke Papua
Bandara Sentani Jayapura Papua
CAPE MAKAR: Martin kecil tiba di Papua, suatu tempat yang jauh dari tanah kelahiranya di Detunglikong, Flores NTT. Bandara sentani di Jayapura Papua, tempat pertama kali saya menginjakan kaki di propinsi yang berada di bagian paling timur Indonesia itu. Takut dan heran itulah kesan pertama yang kudapati saat itu, takut karena pesawat yang membawa saya dan rombongan transmigrasi itu menyentuh landasan pesawat dengan cara yang ekstrim. Prakkk, uuusss, kikkkkkkkkk, sunggu sangat menakutkan. Mungkin baru pertama kali naik pesawat di usia kurang lebih 5 tahun jadi kesan kampungan terekam jelas saat itu.

Heran karena orang Papua rambutnya lebih kriting, lebih hitam dan lebih seram (nampaknya) daripada orang-orang yang pernah saya jumpai. Sekali lagi itulah yang terekam saat pertama kali menginjakkan kaki di bumi cenderawasih.

Usai menginap beberapa hari di kantor transmigrasi (depan pos tentara 751) Sentani Jayapura Papua. Selanjutnya rombangan dibawah menuju lokasi transmigrasi, SP V distrik Kaureh, Jayapura Papua. Perjalanan yang diawali mengitari danau sentani sekitar 2 jam itu sangat melelahkan sampai di Tajah lereh (nama lain dari SP V).

Melewati perurumahan yang nampak jauh dari kata ramai, kemudian menelusuri hutan belantara yang masih hijau, akhirnya sekitar pukul 03.00 WIT kami pun tiba di tempat tujuan.
***

            Sajian pertama yang kulihat dihari pertama adalah hutan di sekeliling rumah transmigrasi yang serba seadaanya itu. Namun, bukan bapakku jika tidak kreatif, bukan promosi tetapi benar, menurut saya beliau sangat kreatif. Perlahan-lahan tempat yang mulanya hutan belantara itu disulap menjadi rumah yang cukup nyaman di tahun pertama, saat itu usiaku sekitar 6 tahun.

Refleksi

1.     Menjadi perintis selalu tidak muda bagi siapapun, tetapi dengan proses dan berjalanannya waktu, percayalah akan memberikan kita kesan yang berbeda tetang hidup, pengalaman, maupun perjumpaan dengan seseorang atau suatu komunitas tertentu. Bahkan bisa jadi berbeda dari pandangan awal kita tentang sesuatunya.
2.     Jangan melihat segala sesuatu dari luarnya saja, pelajari dan pahami lebih dalam maka engkau akan menemukan jawaban yang mungkin saja berbeda dari kesan awal yang didapat. 


Tulisan berseri, namun cukup singkat, termasuk kategori tidak jelas, maafkan saya karena ini hanyalah catatan perjalanan seorang anak kampung saja. (Makar admin blog Gubanesia.)


Baca Juga:


Masuk SD di Papua Hanya Papan yang Kulihat Bukan Sekolah

Sebuah Memori di SD Detunglikong

Tentang Rumah dan Keluargaku





Saya Tidak Senang Menjadi yang Terbaik

Saya Tidak Senang Menjadi yang Terbaik
CAPE MAKAR: Kali ini saya ingin membagikan secuil kisah tentang kebaperan, mungkin tidak berfaedah. Namun pesan di baliknya adalah tiada kesuksesan tanpa ada tantangan. Berikut goresan kisah baperku.

Untuk menjawab tantangan kurikulum 2013 dan upaya kongkrit dari guru Sekolah Kristen Kanaan Jakarta sebagai rool model bagi siswa; maka pihak sekolah berupaya semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. Saya sangat mendukung niat baik tersebut.
Saya Tidak Senang Menjadi yang Terbaik

Salah satu usaha kongkrit itu adalah dengan mengundang dosen sekaligus penulis buku level atas seperti pak Tri Widiarto, sekaligus direktur percetakan Widya Sari Press Salatiga, Magelang Jawa Tengah untuk mengajari teknik menulis jurnal ilmiah. Kurang lebih tiga kali beliau datang ke Sekolah Kristen Kanaan Jakarta dan mengajari teknik penulisan jurnal ilmiah kepada staf guru di sekolah tersebut, termasuk saya.

Edisi pertama, sekitar 15 guru yang mengikuti pelatihan tersebut hanya dua karya terbaik yang berhasil dibukukan, salah satunya karya saya yang berjudul Guru Bloger Solusi Alternatif dalam Menjawab TantanganMengajar di Era Milenial.
Saya Tidak Senang Menjadi yang Terbaik

Kedatangan beliau untuk yang keempat kalinya dan memberikan pelatihan jilid II. Itulah yang menjadi masalah buat saya, dan sejujurnaya masalah ini tidak berdasar sama sekali, hanya karena nama saya sering disebut dan menjadi contoh. Alasannya sederhana karena tulisan saya masuk kategori baik menurut editor di sana. Saya diberi apresiasi melalui kata-kata pak Tri, “pak Martin nulisnya bagus”, masalahnya saya tidak ingin disebut bagus apalagi yang terbaik.

Saya tidak suka.

Kenapa?
Saya Tidak Senang Menjadi yang Terbaik

Jawabanya karena belum bisa menghasilkan 5 artikel dengan panjang 1000 kata dalam 1 hari. Terus kucoba tetapi hingga kini belum berhasil. Apabila saya sudah bisa menulis 5 artikel dalam satu hari dengan krieteria di atas, itu baru layak disebut “terbaik”. Jadi itu alasan saya tidak bahagia apalagi senang disebut yang terbaik dalam hal menulis. Selesai tanpa pesan. (Makar admin blog Gubanesia)

Catatan
Ini hanya tulisan baper, tidak bermaksud menyakiti hati siapa pun, salam literasi

Menjadi Istri yang Sebenarnya Sangat Sulit

Menjadi Istri yang Sebenarnya Sangat Sulit

CAPE MAKAR: Tulisan ini sebenarnya bermaksud untuk sharing pengalaman bahwa menjadi istri itu cukup mudah, punya pacar, menikah, dan membangun keluarga. Tetapi menjadi istri yang sebenarnya tidaklah mudah. Sangat sulit, apalagi istri yang juga bekerja membantu suami mencari nafkah. Itu lebih sulit lagi.

Sebenarnya saya ingin lanjut pada pokok persoalan, namun sepertinya akan jauh lebih baik jika saya jelaskan dulu maksud dari deretan kata dan kalimat yang menyatakan “menjadi istri YANG SEBENARNYA. Semua ini versi saya; karena saya orang yang menganut budaya patriarkat, bukan matrinial maka peran seorang istri dalam pandangan saya seperti ini. Menjadi seorang ibu dan menjadi seorang istri. Menjadi istri di sini konteksnya adalah melayani suami, tunduk, dan patuh kepada suami.

Ditambah lagi dengan pemahaman alkitabiah yang menyatakan, “ hai para istri patuhilah suami karena suami adalah kepala keluarga”; pemahamanku yang dangkal tentang firman Tuhan tersebutlah yang membuatku menjadi agak egois sepertinya. Baru nyadar hehehee, lanjut ya…


Baca juga:


Menjadi Istri yang Sebenarnya Sangat Sulit

Istriku adalah seorang wanita terbaik kedua di dunia, setelah ibuku. Segalanya dilakukan untuk membuatku bangga dan bahagia. Dia adalah taman firdaus dalam hidupku.
Bayangkan saja sebagai pekerja kantoran kami sama-sama harus bangun pagi untuk mempersiapkan diri. Bedanya saya mempersiapkan diri untuk kantor (kebanyakan juga istri membantu saya); sedangkan istri saya sebelum itu harus menyiapkan sarapan, beres rumah, strika baju kerja saya dan semua keperluan saya dan dirinya.

Pulang kerja saya istirahat, nonton tv, atau sekedar menulis untuk blog yang saya kelola; sedangkan istriku harus kembali menyiapkan makan, bereskan rumah, pikirkan belanja untuk besok; sampai soal pembayaran listrik dan lain sebagainya. Pokoknya tentang dalam rumah tu urusan istri. Ehmm uang belanja, tenang sa, lancar kok. Kwkwkw.

“De kopi dong”

Itulah yang saya lakukan di setiap hari Sabtu (karena Sabtu libur), sepersekian menit kemudian kopi dan kue pun muncul. Lebih parah kalau ada tamu, hanya tatapan saja, istri saya paham apa yang harus dia siapkan untuk tamu-tamu saya. Saat pacaran sudah dijelaskan terkait budaya dan peran istri dalam keluarga kami dalam berbagai situasi. Keren kan, canda ya….pis@.

Hari ini, Sabtu 6 Januari 2018 istri saya kondisinya kurang sehat. Mungkin karena kecapean. Akhirnya dia istirahat dari rutinitasnya sebagai seorang ibu dan istri. Saya yang menggantikan perannya. Merawat dirinya itu pasti dan memang tugas saya sebagai suami.

Setelah itu pukul 06.00 harus ke pasar belanja sayur, bawang, tomat dan segala keperluan dapur. Pulang masak; setelah itu beres rumah, cuci pakian, dan siangnya menyiapkan makan untuk kami sekeluarga. Setelah semua siap, jujur saya tidak makan melainkan tidur.
Menjadi Istri yang Sebenarnya Sangat Sulit

Ternyata jadi istri cape bangat.
Bangun tidur istriku dengan senyumnya yang paling manis datang menghampiriku dengan makanan di tangannya, “pak makan dulu”, senyum tidak pernah luput dari wajah cantiknya.

Jujur caranya membuatku merasa tidak layak jadi suami buatnya. Dia orang yang penuh cinta, dalam kelelahan masih tersenyum ramah, sedangkan saya hanya bisa menuntut. Sungguh ini tidak adil. Istriku, engkau bukan pembantu, maafkan saya yang tidak merasakan lelahmu. Terima kasih untuk cinta tulus dan pengabdianmu. Memang benar kata pepatah bahwa kesuksesan suami karena di belakangnya ada istri yang hebat.

Anak-anak didikku mengaggumi cara saya berkomunikasi maupun mengajari mereka. Katanya saya hebat. Baca pengakuan anak-anak itu di sini. Tetapi sekarang saya tahu bahwa saya bisa seperti itu bukan karena saya tetapi ada istri hebat yang mendukung saya.


Baca Juga:


Refleksi:

Para suami, ini bukan nasehat. Siapa saya yang bisa menasehati bapak-bapak sekalian; ini hanya sekedar berbagi ini untuk direnungkan bersama:
1.     Andaikan bisa menghitung waktu mondar-mandir seorang istri dari dapur, ke kamar mandi, kemudian kamar tidur dan ruang tengah selama sehari; jika dikorelasikan dengan orang berjalan sepanjang tiga kilo meter setiap hari mungkin sama. Jadi masih pantaskah membentak seorang istri?
2.     Istri dan pembantu itu beda; istri adalah teman hidup, pembantu adalah seorang pekerja. Jadi pantaskah kita membiarkan istri berlelah seorang diri dengan dalil itu tugas istri?, maaf tidak menggurui.
3.     Saya berani bertaruh sebagian besar kesuksesan suami dalam bidang apapun karena di belakangnya ada istri yang penuh cinta. Saya yakin karena mengalaminya.
Terakhir untukmu pemuda tampan, jangan hanya mencari calon istri yang cantik secara fisik. Tetapi cintailah seorang wanita yang mencintai kekuranganmu. Itu pasti istri yang super hehehe.

Maaf ini hanya sharing, jika tidak berfaedah abaikan saja. Salam bagimu istri-istri hebat yang dikasihi Tuhan.  (Makar admin blog Gubanesia)

Menjadi Istri yang Sebenarnya Sangat Sulit

Baca juga:


Untuk Ayah Tercinta Aku Menulis

Untuk Ayah Tercinta Aku Menulis

Cape Makar


Ayah dengarlah…
Tahukah engakau bahwa aku ingin di masa tuamu engkau bebas,
Aku ingin engkau beralih dari satu kota ke kota yang lain sesukamu ayah,
Saya bisa mewujudkan itu.

Ayah dengarlah…
Aku ingin engkau tahu bahwa cintaku hanya untukmu saja.

Tapi tahukan dirimu ayah, saya lelah membujukmu.
Caramu ayah, kadang membuat saya harus berkata, ‘ah sudahlah kalau memang itu maunya’

Melihat tulang yang membalut kulit, jujur saya ingin menangis.
Mendengar engkau yang masih merintis ladang untuk menanam padi,
Jujur aku marah, tapi bisa apa; jika itu sudah jadi keputusan ayah tercinta.

Hanya doa yang tak pernah henti semoga engkau panjang umur dan sehat selalu ayah.

Cinta dan banggaku padamu ayah tercinta.
Semoga Tuhan melindungmu ayah. (Makar admin blog Gubanesia)


Jakarta, 31 Desember 2017, malam tahun baru.  



Baca juga:


Rumah dan Keluarga

Tahun 2018, Takut Kecewa Lagi

Tahun 2018, Takut Kecewa Lagi

CAPE MAKAR:


Tahun baru lagi, komitmen dibuat lagi.
Setelah itu lupa lagi.
Aku sampai lelah, bahkan nyaris lupa dengan kataku sendiri.
Aku lelah dengan penantian ini.

Adakah salah yang harus kuperbaiki, tanyaku pada nurani.
Nurani pun seperti tak mampu menjawab pertanyaan orang lelah seperti itu.

Di sini berseleweran kembang api,
Hiruk pikuk manusia yang bergembira ria menyambut pergantian tahun.
Namun aku hanya seorang diri menunggu dalam ketidakpastian,
Sebuah kata yang lebih halus daripada disebut putus asah.

Kucoba membuat komitmen lagi seperti setahun yang lalu.
Namun entah mengapa aku tak mampu lagi.
Takut kecewa.
Benarkah tidak ada yang mustahil bagi Tuhan?

(Makar admin blog Gubanesia)


Jakarta, 31 Desember 2017
Goresan tak bertepi di penghujung tahun 2017



Apa Arti Sebuah Nama, KARAKABU?

Apa Arti Sebuah Nama, KARAKABU?

Cape Makar: Pertanyaan klasik yang setiap orang pernah mendengar atau mengucapkannya. “Apalah arti sebuah nama”. Bagi beberapa suku tertentu di Indonesia, nama (terutama nama belakang, baca: Marga). Memiliki arti dan makna tersendiri. Semisal di Bali Wayan, Made, Ketut; bagi orang Bali deretan nama tersebut memiliki strata sosial tersendiri. Termasuk suku Batak dan Papua. Nama memiliki simbol dan prestise.

Apa hubungan dengan saya dan proses penamaan ini.

Ceritanya cukup panjang, jadi supaya tidak bosan saya singkat seperti ini, 2005 lalu saya lulus dari Seminari Menengah Santo Fransisikus Asisi Jayapura Papua. Sebuah lembaga pendidikan menengah bagi calon imam gereja Katolik (setara dengan SMA). Saya diminta lanjut ke seminari tinggi oleh ayahanda tercinta. Idealnya memang seperti itu. Tetapi saat menelisik kembali ke belakang dan mengukur kualitas diri, sepertinya seminari bukan pilihan yang tepat untuk saya.

Singkat kata singkat cerita, secara sepihak saya memutuskan untuk tidak melanjutkan ke seminari tinggi. Di sisi yang lain, ayahanda tercinta, Robertus Bura. Sudah mempersiapkan segala sesuatu yang terbaik buat saya dengan harapan saya lanjut ke seminari menengah. Bisa dibayangkan marahnya orang timur hehehee,...jika keinginannya tidak terpenuhi. Sory basodara semua tetapi itu yang kulihat dan kualami. Salam satu jiwa.

Intinya orang tua, terutama ayah sangat marah dengan keputusan saya. Buntut dari kemarahannya, saya diperbolehkan melanjutkan kuliah tetapi dengan biaya sendiri. Itu mustahil tetapi itulah yang ayah saya lakukan dan saya alami.

Hanya satu yang diberikan ayah tercinta kepadaku. Sebuah nama, KARAKABU. “pergi dan merantaulah, gapailah apa yang mau engkau raih, tetapi selalu gunakan nama Karakabu di belakang namamu”.

Sejujurnya saya tidak paham maksud tersirat beliau. Supaya tidak memancing kemarahanya sayapun memakai nama tersebut tanpa banyak tanya lagi, termasuk penamaan di berbagai akun sosial media dan blog milik saya.  

Baca juga: www.martinkarakabu.org

Sebagai perantau sejak kecil terkadang saya berpikir saudaraku hanya si A, B, C dan D. Ternayata banyak saudaraku di Detunglikong sana. Detunglikong apa si?. Bro sist itu nama sebuah tempat. Persisnya sebuah dusun di kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, propinsi Nusa Tenggara Timur. Kalau masih bingung juga buka atlas dan lihat peta Indonesia, dan lihat NTT Indonesia apa bukan?.

Sesekali travel blog, pelancong, atau kalian yang mencintai arkelog datanglah ke dusunku. Di sana ada danau alami di atas ketinggian 800 kaki dari permukaan laut lho. Namanya danau rano, ada juga air terjun yang pasti memacu bangat ardenalinmu bro sist, namanya air terjun sokeloleng. Nah ini buat kamu yang menyukai arkelog di tempatku ada piring kuno peninggalan zaman pra sejarah yang menarik untuk diteliti oleh arkelog. Pokoknya banyak hal menarik, datang dan saksikan sendiri kalau itu benar adanya.

Kembali ke arti sebuah nama?. Karakabu ternayata nama desa. Berarti Martin nama orang dan Karakabu desa. Jadi Martin Karakabu orang desa. Jika itu kontruksi berpikirnya maka anda benar. Jika tidak pun benar. Salah jika tidak berpikir, meminjam kata Descartes, saya berpikir maka saya ada.

Entahlah diawali bulan apa saya lupa. Tetapi seorang saudara yang hebat, giat membangun kampung. Caranya berpikir sepertinya sederhana namun kualitas dari caranya berpikir itu yang luar biasa.

Beri bukti bukan kata kosong.

Seperti itulah kata dan kalimat yang mewakili rasa kagumku pada sosok ini. Dialah Hendrik, pegiat dan menjadi garda paling depan membangun desa Karakabu. Darinyalah saya tahu pertama kali kalau Karakabu itu nama sebuah desa dari dusun Detunglikong, tempatku dilahirkan. Terima kasih nong, karyamu akan abadi bagi generasi sesudahnya.

Kenapa diberi nama karakabu, makna tersembunyinya kupahami dari dia yang pernah menggendongku pada masa kecilku dulu. Efraem, Saudara yang luar biasa. Darinya saya tahu kalau karakabu sejatinya adalah dua orang. Kara dan Kabu. Mereka adalah keturunanku. Orang-orang yang berjuang membangun kampung dan menjaga kampung Detunglikong.

Dari penuturan ayahku Kara dan Kabu adalah dua bersaudara, semantara dari yang kudengar adalah bapak dan anak. Entahlah mana yang benar, yang pasti saya mengikuti penuturan ayah tercinta, Kara dan Kabu adalah adik dan kakak. Idealnya nama karakabu bukan saya yang sandang karena saya tidak membangun kampung seperti lelurku itu. Penghargaan yang paling benar adalah nong Hendrik dan kakak Efraem merekalah karakabu era baru. Termasuk mereka-mereka yang sepak terjangnya tidak saya tahu, namun giat membangun desa KARAKABU. Saya apa? mungkin semangatnya yang bisa kumaknai dalam hidup dan perjalanan ini. Tapi mungkin suatu saat bisa berkontribusi dengan apa yang kubisa.

Gays, di dusunku ada bekas telapak kaki pada sebuah batu, persis seperti yang ditemukan para arkelog dari UGM tahun 2012 yang lalu di Purwokerta. Masyarakat setempat menamakan “nitu watin”.  Menarik gays buat diteliti lebih lanjut, so #ayo ke Detunglikong. 

Jadi karakabu itu sebenarnya apa si?. BERSAMBUNG.

Catatan:



Tulisan ini lebih pada curhat tentang arti sebuah nama dan rindu pada tanah leluhur. Jika ada kesalahan penyebutan atau apapun mohon diperbaiki imung deung, kerapu, lu’ur dolor mogan sawen. Jauh bangat dari kata ilmiah atau nalar yang baik karena sifatnya sebatas curhatan hati ya gays. Salam dari rantau. (Makar admin blog Gubanesia)


Baca juga

Gadis Malang

Gadis Malang
gambar ilustrasi, sumbernya dari sini KLIK
CAPE MAKAR:

Hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu. Ia seperti anak panah yang terus melaju. Sehingga jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan. 

Demikian penggalan syair mahakarya pujangga asal Libanon, Kahlil Gibran untuk anak-anak.

Sekiranya tepat untuk anak-anak zaman now. Anak-anak yang butuh sentuhan kasih sayang dan rasa aman dari kedua orang tuanya. Terutama di tengah hingar-bingarnya kehidupan sosial saat ini. Terkadang mereka bersuara, tetapi tak mampu bersuara. Mereka butuh pendidikan dan naungan. Kata si perajut kata, Timo Martin; seorang teman dan jurnalis hebat di bumi cenderawasih.

Ironisnya di tengah gemerlapnya kota metropolitan, anak-anak Jakarta ternyata masih dibelenggu oleh perasaan tidak didengar, apalagi dimengerti oleh orang tua. Dampaknya mereka ’berjuang’ sendiri demi mempertahankan hidup. Bahkan berjuang untuk mendapatkan sebuah rasa 'bahagia'; di rumahnya sendiri. 

Begitu pula dengan gadis paroh bayah di salah satu 'sekolah kehidupan' yang kujumpai hari ini. Sebut saja namanya, Mawar (bukan nama sebenarnya). 

“Bapak bisa jadi pendengar buat saya?”, katanya singkat.

Gadis ’malang’ ini sedari tadi duduk di anak tangga lantai 3, pada sebuah 'sekolah kehidupan'. Ia tak banyak berbicara, hanya nanar menatap hiruk pikuk pelajar yang lalu lalang. sekilas disapanya dengan senyuman khas kepada guru maupun pelajar lain yang melewati lorong itu tanpa secuil ekspresi. Tatapannya kosong, menerawang, entah kemana. Selintas pandang duduknya sopan dan rapi. Namun ternyata gadis cantik ini sedari tadi sedang menahan tangisnya. 

Ketika saya menyambanginya, tangannya menengadah dibarengi senyum renyah. Senyum yang penuh harapan agar saya bisa menjadi pendengar yang memahami pergolakan batin si gadis malang ini. 

Ketika ditanya 'ada apa"?

Tidak ada jawaban, sunyi di tengah keramain yang ada. Hanya tangisan perlahan-lahan membanjiri wajah cantiknya. "Saya ingin menahanya, tetapi lama-lama bisa membuat saya nangis pak" katanya datar tanpa kontak mata sekedip pun padaku. 

Tatapannya kosong pada tembok di depan sana. bukan fokus tetapi hanya kebetulan ada ruang hampa di hadapan gadis 16 tahun itu. Sunggu kejam melebihi teroris paling sadis, jika rumah bukan lagi tempat yang dirindukan oleh putra-dan putrimu. 

Usianya masih hijau, emosi masih labil dan sedang dalam pertumbuhan. Namun ia terpaksa melakoni peran kehidupan yang teramat berat. Kondisi keluarga justru membuatnya seperti itu. Sebenarnya ia pun ingin seperti anak-anak lainnya yang bergembira ria tanpa beban, hanya belajar dan membantu orangtua sebisanya. Naman kondisi keluarga memang tidak memungkinkan gadis malang ini mendapatkan bahagia itu.

Sekiranya seorang ibu bisa membuat rumah menjadi tempat yang dirindukan, dan seorang ayah melengkapi dengan 'taman firdaus' dalam rumahnya. Gadis malang itu pasti tidak seperti itu. Ia pasti berkonsenstrasi pada belajar. Bukan menangis seorang diri di anak tangga sekolah kehidupan hari ini.

Remaja putri ini berpacu bersama waktu dan bersaing dalam dunia yang sarat perubahan dan gejolak, semoga ada secercah harapan yang datang untukmu anak muda. Doa seorang guru kampung (Makar admin blog Gubanesia)


 Istana terindah adalah rumah dengan kehangatan keluarga.


Catatan perjalanan dan perjumpaan, 
22 November 2017, jam 11.30 WIB.  

Ibu-Ibu Gang yang Sok Tahu

CAPE MAKAR: Catatan makar kali ini berbagi cerita tentang ibu - ibu gang yang sok tahu. sebenarnya hal seperti ini sudah sering saya alami di Jakarta namun baru kali ini saya sempat membagikan pengalaman yang menjengkelkan ini. 

Ruas jalan baru sunter, Jakarta utara. Sering saya lewati menuju tempat kerja SMA Kanaan, di Jakarta pusat. Setiap pagi cukup ramai dengan anak sekolah, pedagang, maupun pekerja lain yang bepergian menuju tempat kerja masing-masing. Termasuk hiruk pikuk kendaraan bermotor yg melawan arah sesukanya. Situasi seperti ini maka kewaspdaan tingkat tinggi menjadi suatu keharusan bagi siapapun.

ibu-ibu gang yang sok tahu dalam berkendara
Jumat, 16 November 2017. sekitar pukul 06.00 WIB situasi yang tidak saya harapkan terjadi. sebuah motor matic yang dikendari oleh - ibu keluar dari arah gang menuju jalan utama (jalan yang saya lalu saat itu). Selang beberapa menit kemudian, setelah sang ibu keluar menuju jalan utama. Tiba-tiba bunyi prakkkkk. Keseimbangan saya jadi tidak stabil dan akhirnya jatuh memeluk aspal. Apa yang terjadi?. Seorang ibu yg terburu buru mengantar anaknya ke sekolah menabrak motor saya.
“Woii bang, hati hati dong...!” kata ibu itu setelah menabrak motor saya. Sambil meringis kesakitan, saya coba bangun dan bertanya kepada si ibu yang pemberani itu, “salah saya apa bu?”.

Tidak ada jawaban, si ibu itu kemudian berlalu. “Ah sudalah, kalau berurusan sama ibu-ibu tidak akan selesai urusan seperti ini, yang ada saya emosi”, pikirku saat itu, toh motor saya baik-baik saja.

Pembaca yang terkasih, itu pengalaman saya dalam perjalanan dari rumah menuju tempat kerja. Di zaman edan seperti ini, saya maupun pembaca mungkin juga pernah mengalami ini; atau juga pernah melakukan hal seperti si ibu yang saya ceritakan di atas. Tetapi ada 3 hal yang perlu kita refleksikan bersama.


Refleksi

Pertama, nyawa tidak pernah bisa dibeli dengan sejumlah uang karena nyawa bukan seperti motor yang bisa dikreditkan. Jadi unsur kehati-hatian dari pengendara kendaraan bermotor adalah mutlak harus dimiliki. Kedua, sabar adalah sebuah kata yang harus dipraktekan oleh setiap pengendara di kota-kota besar yang tingkat kemacetan terus bertambah setiap harinya. Ketiga, berani bawah kendaraan bermotor harus tahu aturan lalu lintas bos.

Demikian catatan Makar hari ini, semoga bermanfaat.(Makar admin blog Gubanesia)    

Catatan Seorang Wali Kelas Edisi Kedua

Catatan Seorang Wali Kelas Edisi Kedua
Foto ilustrasi dari Catatan Seorang Wali Kelas Edisi pertama
#Kuncup
Cape Makar: Kali ini kubagikan kisah yang kuulang kembali. Kisah yang persis sama setahun yang lalu, 7 Sepetember 2016. Namun racikan dan nuansanya sedikit berbeda; menimbulkan sebuah kebanggaan, haru, dan cinta yang mendalam (menurut saya).

Kisahku bersama 23 anak yang mereka namakan KUNCUP setahun yang lalu baca di Catatan Seorang Wali Kelas.

Bukanlah sebuah kisah hebat untuk kebanyakan orang; apalagi hanya cerita ulang tahun seorang guru kampung seperti saya.Tetapi bagi saya ini sesuatu yang mendalam dan sangat terkesan selama saya menjadi guru.

Mengapa

Jujur saya bingung menjawab pertanyaan tersebut karena ini soal rasa, dan tidak seorangpun merasakan apa yang saya rasakan bersama anak-anak hebat tersebut. Baca ceritanya yang berjudul 32 Tahun yang Berkesan Bersama Kuncup.

7 September 2017, saat ulang tahunku. Jujur saya tidak ingin mereka memberikan kejutan saat saya masuk ke kelas XI IPS 2 untuk mengajar; karena situasi dan nuansanya beda saat saya menjadi wali kelas setahun yang lalu. Saya tidak ingin ada presepsi lain karena kelas tersebut sedang kubangun pondasi untuk merajut kebersamaan dan persaudaraan. Pasang surut memang, dan nyaris saya putus asah dan berniat membiarkan saja. Meski sejatinya saya tahu tindakanku itu tidak bijak karena banyak anak di kelas itu membutuhkan perhatian dan cinta yang tulus dari saya sebagai seorang guru dan wali kelas.

Singkat cerita dua jam pelajaran kulalui seperti apa yang kumau, “suyukur, keinginanku tercapai”, batinku saat itu. Saat langkah kaki menuntunku keluar dari ruangan kelas XI IPS 2 terbesit juga sebuah asah, “ah anak-anak ini tega amat si ga ngucapin ulang tahunku”, pikirku sedikit kalut, tapi sudahlah yang penting rencana dan niatku untuk membuat kelas itu merasakan sebuah suasana persaudaraan sejati tercapai. Jadi meskipun ada rasa baper n galau kata anak zaman sekarang kuiklasin saja, dan semuanya berakhir; sekali lagi seperti yang kuinginkan.

*** Sekitar 4 jam Kemudian***

“Pak Martin, maaf menggu saya pusing pak di kelas bapak saat saya mengajar ada Rudy dan Rico berkelahi”. Ujar seorang rekan guru padaku.

Wah jujur penat saya mendengarnya. Seketika kutinggalkan kelas XI IPA, kelas yang saya ajar saat jam terakir. Dalam sekejap saya telah sampai di kelas XI IPS 2.

Sejenak kuperhatikan suasana sekeliling. Jujur, saya harus akui anak-anak XI IPS 2 hebat dalam mendesain kejutan itu. Tetapi dibesarkan dalam lingkungan yang selalu menghadirkan suasana keras, lakon anak-anak yang mempunyai niat yang sangat baik itu bisa kupahami dengan cepat. Hehehe, ternyata ini settingan mereka buat ulang tahunku. Benar saja, sedetik kemudian kue ulang tahun muncul.

Apa yang saya rasakan saat itu?.

Jujur saya tidak terkejut, tetapi saya merasa malu pada diriku sendiri dan perasaan yang begitu dalam karena telah mengecewakan mereka. Soal ini biar kuulas di lain waktu.

Semaunya berjalan seperti biasa, hanya 1 permintaan saya buat mereka saat itu. Jaga persaudaraan dan kekompakan dalam keberagaman dan perbedaan karakter.

Komitmen saya jelas terus mengawalnya, karena ini baik dan mulia adanya. Satu hal yang pasti melalui kejutan yang diberikan anak-anak murid di ulang tahunku. Aku ingin melayani mereka dengan hati yang tulus. Bertindak sebagai orang tua, guru, dan teman yang baik bagi mereka. Saya tahu hal ini tidak bisa kujalani seorang diri, namun saya percaya dibalik ini semua ada anak-anak hebat yang akan menolong saya untuk mewujudkan itu.  

Harus kuakui saya salah menilai mereka (siswa), dan harus kuakui pula saya belum lulus menjadi guru era baru yang mampu memahami pskikologi anak denagan baik.

Pemahaman ini hadir karena pencerahan dari seorang muridku yang bernama Hellen Yoanita, “bapak salah............”.

Jujur saya susah menerimanya jika dibilang salah, apalagi dari seorang remaja, tetapi dari penjelasan anak muda ini, saya harus akui bahwa memang saya salah dalam bertindak. Thanks Hellen, soal ini kisahnya kuceritakan pada edisi yang lain.  

***
Sebelum mengakhiri refleksi ini saya ingin meminjam istilah seorang muridku, “pak, banyak guru bahasa Indonesia di luar sana, tetapi untuk menjadi seorang guru yang bisa mendengarkan itu tidak muda”, kata seorang remaja SMA berusia 16 tahun.

Artinya apa bapak dan ibu sekalian, untuk menjadi guru yang sebenarnya bukan melulu bicara gaji berapa yang saya dapat, seberapa besar penghargaan siswa terhadap kita. Kesampingkan itu semua terlebih dahulu.

Lakukan pekerjaan sebagai guru dengan hati yang mau melayani, iklas, dan tulus, lengkapilah dengan menjadi “teman” yang baik bagi mereka. Lupakan ego diri bahwa kita adalah orang dewasa dan guru; tetapi rendah hati dan belajarlah dari anak-anak.

Setelah lakukan itu semua maka percayalah perubahan akan terjadi, cinta akan didapat, dan apresiasi yang tulus pasti diberikan. Satu hal yang tidak boleh dilupakan, tetap tegas dan pastikan siswa tahu kesalahannya apa. Jika semua itu telah dilakukan, bersabarlah, beberapa tahun kemudian cinta dari mereka akan kita dapat, dan itu lebih bahagia daripada uang.

Guru bangsa sekalian ini hanya sharing, tidak bermaksud menggurui. Siapa saya, hanya seorang guru kampung yang lulus pun bukan dari perguruan tinggi ternama. Sekali lagi ini hanya sekedar berbagi, suyukur jika berfaedah dan abaikan saja jika tidak membawa manfaat. Apakah saya sudah melakukannya, jawabannya sudah. Apakah hasilnya ada, jawabanya iya tetapi belum maksimal. Sulit atau tidak melakukannya?; jawabanya SANGAT SULIT. Tetapi jika lakukan dengan hati maka akan berarti, Salam bagimu guru bangsa di mana saja mengabdi. (Makar admin blog Gubanesia)