Makar Bagian Pertama: Rumah dan Keluarga

Posted by Cape Makar on Minggu, 18 Juni 2017

Jalanan di kampung Detunglikong, dusun yang kutinggalkan dan tempat saya dilahirkan
Jalan di Dusun Detunglikong, tempat lahirku
Sumber foto : FB, dilansir dari Hendrikus Raga 
Cape Makar: Kicauan burung tekukur diantara semak blukar yang menghasilkan uang menarik untuk sekedar dikenang kembali. Ya kusebut menghasilkan uang karena diantara rerimbunan semak itu, terdapat bermacam ragam tanaman yang menjadi komoditi utama kami mencari nafkah. Kemiri dan coklatlah dua tanaman andalan kedua orang tuaku untuk menghasilkan uang demi meyambung hidup. Itulah secuil kenangan masa kecil di Detunglikong.

Detunglikong nama sebuah dusun terpencil di desa Nirangkliung kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Flores NTT. Gaulnya disebut MOF (maumere of flores), Di sana (Detunglikong) tempat saya dilahirkan, tempat pertama yang menyambutku di dunia yang keras ini. Didik dengan disiplin yang yang cukup ketat untuk anak umur 5 tahun, dari seorang ayah yang penuh cinta, Robertus Bura, dan seorang ibu yang penuh kasih (almahrum Yuliana Noa). Namun sebagai anak bungsu dari 4 bersaudara, cinta dan manja selalu menghiasi hari-hari di masa kecilku itu.

Rumahku bukanlah gedung mewah, melainkan hanya gubuk sederhana. Beratapkan alang-alang dan bertiangkan bambu kampung buah tangan ayah tercinta. Dimalam hari, pelita kecillah yang menerangi kebersamaan kami sekeluarga. Rumahku terpisah cukup jauh dari kampung utama (Detunglikong) sekitar 1 Km. Entahlah, kenapa kami jadi terpisah sendiri dari kampung utama. Belum sempat kutanyakan hal ini pada ayahanda tercinta di Kalimantan. Namun setiap orang yang ingin ke kota Maumere, atau ke kampung tetangga Oring koting harus melewati rumahku. Cukup strategis memang tempat tinggalku itu, tepat dipinggir jalan utama (sebutan jalan utama, bukanlah jalan raya melainkan jalan setapak).

Ayahanda terkasih Robertus Bura
Sumber foto: Dokumentasi pribadi
Halamannya cukup luas, dua pohon kepok (entahlah bahasa Indonesia sebutannya apa) berdiri gagah di halaman rumahku. Laksana penjaga yang menjaga seisi rumah. Sedangkan dipintu masuk menuju rumah, seingat saya, berdiri pohon pinang yang menjulang tinggi, seperti penerima tamu yang hendak menyambut kedatangan siapa saja yang hendak berkunjung ke gubuk kami. Bagian kiri, deretan coklat dan kemiri yang menjadi pandangan terindah di masa kecilku itu. Demikian halnya di bagian belakang, deretan pohon kemiri dan coklat, yang dalam Bahasa Maumere disebut Kakao dan gelo berdiri gagah hingga ujung sungai wair terang bagian utara. Sedangkan bagian kanana tepat berbatasan rerimpunan pohon coklat nene Niku (nenek yang bernama Niku). Itulah rumahku, dusunku, tempat yang menemani dan menyambutku di masa kecil. Sejak ada hingga usiaku yang ke 5 tahun. Mungkin tulisan ini, kondisinya sudah tidak sesuai lagi, atau mungkin ada yang salah dengan penyebutan tempat dan lain sebagainya. Tetapi itulah yang kuingat dari memori 28 tahun silam di Detunglikong tanah leluhurku.

Martin Karakabu (dasi merah) anak Detunglikong
Salam dari tanah Rantau...


Baca juga:


Sebuah Memori di SD Detunglikong

Refleksi

Sejauh-jauhnya merantau, jangan pernah lupa pada tempat dimana engkau berasal kawan. Itu tanah tumpa darah. Tidak harus mendatangi untuk membangunnya tetapi buatlah dengan apa yang engkau bisa dan engkau yakini sebagai suatu kebaikan yang membawa manfaat untuk orang banyak. (Makar admin blog Gubanesia)

0 Response to "Makar Bagian Pertama: Rumah dan Keluarga "