MAKAR

Posted by Cape Makar on Jumat, 16 Juni 2017

MAKAR

Cape Makar adalah nama blog personal yang berisi catatan perjalanan Martin Karakabu si anak kampung.Detunglikong nama dusunku, tepatnya di Maumere, Kab. Sikka, Flores, NTT.  Sesuai dengan namanya “cape makar” yang bermakna, catatan perjalanan (CAPE) dan makar merupakan bentuk pendek dari Martin Karakabu. Ulasan yang menjadi konten utamanya adalah suka duka menjadi perantau di tanah Papua dan berbagai tempat yang kujajaki, hingga kini ‘berlabuh’ di ibu kota Jakarta. Semua rekam jejak tersebut akan dikumpulkan kembali, diolah menjadi paragraf yang padu, kemudian direfleksikan. Harapannya semoga menjadi dokumentasi hidup yang layak untuk diceritakan kembali kepada anak cucu, bahwa saya pernah ada buat mereka.

MAKAR
Siapa saya?. Sepertinya cukup sulit untuk menjawab pertanyaan ini bagi seorang perantau dan anak jalanan yang tumbuh besar di tanah orang. Tetapi baiklah kukenalkan sedikit siapa saya. Martin Karakabu adalah anak Flores Maumere, NTT. Dusunku bernama Detunglikong tepatnya di kecamatan Nita. Karakabu adalah nama leluhur kami yang mendiami Detunglikong, negeri elok yang telah kutinggalkan itu. Sebagaian besar hidup saya, sekitar 25 tahun berada di tanah Papua sebagai perantau. Kini saya berlabuh di kota Jakarta dan “sedang belajar” menjadi pendidik yang baik dari para guru hebat di SMA Kanaan Jakarta dan sedang berusaha menjadi imam yang baik bagi keluarga kecilku.   

Lanjut, sebagai seorang perantau maka malang buana dari satu tempat ke tempat yang lain menjadi topik yang dikisahkan, tetapi makna perjalanan yang dimaksud pada penamaan saya tentang catatan perjalanan bukan saja pada perpindahan orang dan barang dari satu pulau ke pulau yang lain tetapi juga perjalanan hidup, mulai dari tanah kelahiran hingga di titik ini. Kota Jakarta.

MAKAR
Untuk apa?, sederhana saja jawabannya untuk diceritakan kembali pada anak cucu kalau saya pernah ada dan mengalami hal-hal yang saya tulis.

Bukankah kata-kata yang terucap akan lenyap namun yang tertulis akan abadi. Abadinya suatu kisah hanya ada jika dituliskan kembali dan menjadi jelas adanya bila pelakunya sendiri yang menulis. Sekiranya itu pemikiran sederhana hingga lahirlah blog personal yang saya beri nama cape makar ini.

Semoga refleksi tak berarti ini bisa menginspirasi pembaca untuk berinovasi lebih lanjut, namun jika tidakpun biarlah ini menjadi dokumentasi hidup si anak kampung saja.**

Sekedar tawaran, jika anda seorang guru Bahasa Indonesia barang kali bisa singga sejenak di gubanesia.com, di sana ada ulasan sederhana saya tentang guru, siswa, Bahasa Indonesia, dan pendidikan masa kini. Kalau bukan guru Bahasa Indonesia, bisa kunjungi martinkarakabu.org di blog tersebut ada opini dan pemikiran saya tentang apa saja yang saya yakini berguna untuk kebaikan bersama maka saya tulis. (Makar admin blog Gubanesia
MAKAR
Bersama anak Papua yang menginspirasi

MAKAR
Cinta memanggil dalam pernikahan

MAKAR
perjalanan seorang perantau




0 Response to "MAKAR"