Sebuah Memori di SD Detunglikong

Posted by Cape Makar on Selasa, 20 Juni 2017

Sebuah Memori di SD Detunglikong
SD Detunglikong, Sekolahku
Sumber foto :http://ikelas.com
Cape Makar: Entah energi posistif apa yang merasuki Martin kecil dulu. Saat mendengar dari ibu (almahrum Yuliana Noa) bahwa saya akan masuk Sekolah Dasar (SD Detunglikong), kebahagian berlipat ganda; sampai saat ini saya menjadi guru di Jakartapun, belum terjawab mengapa saya bahagia waktu masuk SD. Meski saat SD jujur sepertinya tidak menyenangkan, tetapi tidak menyurutkan niatku untuk seharipun tidak ke sekolah, kecuali sakit.

Berikut ini, kucoba menyatukan kembali kepingan kisah saat masuk SD di Detunglikong, sebuah memori yang terlampau lama untuk diingat kembali. Kurang lebih 28 tahun yang  lalu tentu tidak semuanya diingat dengan baik, namun inilah masa-masa SD yang pernah kujalani; dan tentu yang kuingat, meski samar-samar ingatannya karena sudah terlalu lama.

Sebuah Memori di SD Detunglikong
Robertus Bura, Ayahanda tercinta
Baju putih dan celana merah khas Sekolah Dasar, lengkap dengan atribut lain yang dibeli ayahanda Robertus Bura di pasar Nagablo menjadi benda paling berharga bagiku saat itu. Entahlah apa yang menjadi sumbernya, tetapi saya benar-benar bangga memiliki seragam tersebut. Tidak kubiarkan siapapun menyentuhnya, termasuk kedua orang tuaku sekalipun. Kudekap seragam itu dengan erat hingga pagi menjemput.

Semangat yang membara membuatku cekatan untuk menyiapkan diri menuju SD Detunglikong pagi itu. Entahlah apakah hari pertamaku masuk sekolah diantara orang tua atau tidak, saya sudah lupa. tetapi yang kuingat dengan baik adalah, Martin kecil berdiri paling belakang, mengenakan seragam SD lengakap, topi, dasi, hingga sepatu hitam kaos kaki putih. Kulihat sekeling wajah-wajah anak seusiaku yang tidak kukenal, maklum rumah kami jauh dari kampung utama sehingga relasi saya setiap hari hanya bersama kedua orang tuaku saja.

Baca juga: Rumah dan Keluarga

Tidak kuhiraukan wajah-wajah yang tidak kukenal itu, saat itu saya hanya berpikir, wah hebat benar jadi anak sekolah dan kekaguman saya pada seorang guru yang menjadi pembina upacara saat itu.

Entahlah namanya siapa guru yang membuatku kagum pada pandangan pertama itu, maklum sudah terlalu lama dan saya di SD Detunglikong hanya sampai kelas 2 SD. Pernah kucoba menanyakan hal ini kepada ayahanda Robertus Bura, dan ada beberapa nama guru yang disebut, salah satunya bapak Ben Koro. Mungkinkah sosok tersebut beliau?. Ah sudahlah saya sendiripun tidak mengingatnya dengan baik, yang pasti sosok guru tersebut telah membuatku kagum pada pandangan pertama di hari pertama masuk sekolah di Detunglikong.

Masa-masa sekolah kulalui dengan sedikit tekanan mental, karena harus disuruh maju menyayi lagu Indonesia raya dan saya tidak bisa. Suruh doa Bapa Kami pun sama saya tidak bisa, dan lebih membuatku menderita karena ketidakbisaanku adalah kuis matematika setelah pelajaran reguler berakhir. Entahlah nama gurunya siapa saya sudah lupa, tetapi ingatan yang abadi dari SD di Detunglikong adalah harus cepat menjawab soal matematika yang disebut guru baru boleh pulang, rebutan soalnya.

Misalnya guru akan katakan 5 X 5  = ... , setiap anak harus rebutan untuk menjawabnya jika ingin keluar duluan. Bagian ini bagi saya adalah sebuah siksaan yang kejam karena saya tidak tahu apa-apa dan biasanya keluar paling terakhir diantara siswa yang lain. Keluar bukan karena bisa menjawab soal tetapi mungkin gurunya sudah cape mengurusin saya yang setiap harinya tidak ada peningkatan sama sekali. Maka sebagai hukuman lanjutan adalah saya diminta menghafal doa 1Bapa Kami, Salam Maria, Aku Percaya, dan menghafal lagu Indonesia raya. Jujur setiap hari di sekolah saya hidup penuh dengan was-was karena takut disuruh maju dan berdoa, apalagi matematika dan menyayi.

Apakah ada hal yang membahagiakan waktu SD di Detunglikong?, oh jelas ada; yakni pulang sekolah, berkelahi di lima leko (nama sebuah tempat) di belakang rumah 2kera Sius Nasi (nama orang). Saat – saat itu menyenangkan bagi Martin kecil dulu. Mengapa saya senang berkelahi waktu kecil?. Itu pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Setiap hari tidak pernah absen rutinitas berkelahi di lima leko. Apakah setelah itu di sekolah jadi musuh?. Jawabannya tidak. Lantas kenapa berkelahi, sayapun bingung. Gimana si ne orang,............, ya itulah masa kecilku dulu.

Apakah ada hal lain yang dikenang dari SD di Detunglikong?. Ada. Yakni saat kami harus mengambil kayu untuk guru dan mengambil pasir di belakang sekolah untuk membuat taman sekolah. Saat-saat seperti ini saya merasa bahagia karena jauh dari tugas menyanyi, menghafal matematika, dan doa Bapa kami. Itu adalah kebahagiaan Martin kecil dulu di SD Detunglikong.



Sebuah Memori di SD Detunglikong
Martin Karakabu (Baju hitam, tas gantung) anak Detunglikong


Refleksi:

Pembaca terkasih, sederhana saja dari kepingan kisah masa kecilku di SD Detunglikong saya bisa belajar 3 hal. Pertama, bahagia itu kita yang ciptakan bukan oleh apa atau siapapun. Jadi mau bahagia maka ciptakan bagaia itu, karena bahagia adalah soal perasaan yang pada diri kita sendiri. Kedua, menjadi guru semua orang bisa, tetapi menjadi pendidik tidak semua guru bisa, karena menjadi pendidik ada wibawa yang terpancar melalui tindakan tanpa kata, melainkan perbuatan nyata yang bisa menginspirasi orang lain. Ketiga, jangan hindari masalah (tidak bisa matematika) melainkan hadapi karena itu adalah tantangan hidup yang timbul karena pilihan hidup yang dipilih. Jadi mau sukses hadapi tantangan dan menangkan...*** (Makar admin blog Gubanesia)

0 Response to "Sebuah Memori di SD Detunglikong"