Catatan Seorang Wali Kelas Edisi Kedua

Posted by Cape Makar on Jumat, 08 September 2017

Catatan Seorang Wali Kelas Edisi Kedua
Foto ilustrasi dari Catatan Seorang Wali Kelas Edisi pertama
#Kuncup
Cape Makar: Kali ini kubagikan kisah yang kuulang kembali. Kisah yang persis sama setahun yang lalu, 7 Sepetember 2016. Namun racikan dan nuansanya sedikit berbeda; menimbulkan sebuah kebanggaan, haru, dan cinta yang mendalam (menurut saya).

Kisahku bersama 23 anak yang mereka namakan KUNCUP setahun yang lalu baca di Catatan Seorang Wali Kelas.

Bukanlah sebuah kisah hebat untuk kebanyakan orang; apalagi hanya cerita ulang tahun seorang guru kampung seperti saya.Tetapi bagi saya ini sesuatu yang mendalam dan sangat terkesan selama saya menjadi guru.

Mengapa

Jujur saya bingung menjawab pertanyaan tersebut karena ini soal rasa, dan tidak seorangpun merasakan apa yang saya rasakan bersama anak-anak hebat tersebut. Baca ceritanya yang berjudul 32 Tahun yang Berkesan Bersama Kuncup.

7 September 2017, saat ulang tahunku. Jujur saya tidak ingin mereka memberikan kejutan saat saya masuk ke kelas XI IPS 2 untuk mengajar; karena situasi dan nuansanya beda saat saya menjadi wali kelas setahun yang lalu. Saya tidak ingin ada presepsi lain karena kelas tersebut sedang kubangun pondasi untuk merajut kebersamaan dan persaudaraan. Pasang surut memang, dan nyaris saya putus asah dan berniat membiarkan saja. Meski sejatinya saya tahu tindakanku itu tidak bijak karena banyak anak di kelas itu membutuhkan perhatian dan cinta yang tulus dari saya sebagai seorang guru dan wali kelas.

Singkat cerita dua jam pelajaran kulalui seperti apa yang kumau, “suyukur, keinginanku tercapai”, batinku saat itu. Saat langkah kaki menuntunku keluar dari ruangan kelas XI IPS 2 terbesit juga sebuah asah, “ah anak-anak ini tega amat si ga ngucapin ulang tahunku”, pikirku sedikit kalut, tapi sudahlah yang penting rencana dan niatku untuk membuat kelas itu merasakan sebuah suasana persaudaraan sejati tercapai. Jadi meskipun ada rasa baper n galau kata anak zaman sekarang kuiklasin saja, dan semuanya berakhir; sekali lagi seperti yang kuinginkan.

*** Sekitar 4 jam Kemudian***

“Pak Martin, maaf menggu saya pusing pak di kelas bapak saat saya mengajar ada Rudy dan Rico berkelahi”. Ujar seorang rekan guru padaku.

Wah jujur penat saya mendengarnya. Seketika kutinggalkan kelas XI IPA, kelas yang saya ajar saat jam terakir. Dalam sekejap saya telah sampai di kelas XI IPS 2.

Sejenak kuperhatikan suasana sekeliling. Jujur, saya harus akui anak-anak XI IPS 2 hebat dalam mendesain kejutan itu. Tetapi dibesarkan dalam lingkungan yang selalu menghadirkan suasana keras, lakon anak-anak yang mempunyai niat yang sangat baik itu bisa kupahami dengan cepat. Hehehe, ternyata ini settingan mereka buat ulang tahunku. Benar saja, sedetik kemudian kue ulang tahun muncul.

Apa yang saya rasakan saat itu?.

Jujur saya tidak terkejut, tetapi saya merasa malu pada diriku sendiri dan perasaan yang begitu dalam karena telah mengecewakan mereka. Soal ini biar kuulas di lain waktu.

Semaunya berjalan seperti biasa, hanya 1 permintaan saya buat mereka saat itu. Jaga persaudaraan dan kekompakan dalam keberagaman dan perbedaan karakter.

Komitmen saya jelas terus mengawalnya, karena ini baik dan mulia adanya. Satu hal yang pasti melalui kejutan yang diberikan anak-anak murid di ulang tahunku. Aku ingin melayani mereka dengan hati yang tulus. Bertindak sebagai orang tua, guru, dan teman yang baik bagi mereka. Saya tahu hal ini tidak bisa kujalani seorang diri, namun saya percaya dibalik ini semua ada anak-anak hebat yang akan menolong saya untuk mewujudkan itu.  

Harus kuakui saya salah menilai mereka (siswa), dan harus kuakui pula saya belum lulus menjadi guru era baru yang mampu memahami pskikologi anak denagan baik.

Pemahaman ini hadir karena pencerahan dari seorang muridku yang bernama Hellen Yoanita, “bapak salah............”.

Jujur saya susah menerimanya jika dibilang salah, apalagi dari seorang remaja, tetapi dari penjelasan anak muda ini, saya harus akui bahwa memang saya salah dalam bertindak. Thanks Hellen, soal ini kisahnya kuceritakan pada edisi yang lain.  

***
Sebelum mengakhiri refleksi ini saya ingin meminjam istilah seorang muridku, “pak, banyak guru bahasa Indonesia di luar sana, tetapi untuk menjadi seorang guru yang bisa mendengarkan itu tidak muda”, kata seorang remaja SMA berusia 16 tahun.

Artinya apa bapak dan ibu sekalian, untuk menjadi guru yang sebenarnya bukan melulu bicara gaji berapa yang saya dapat, seberapa besar penghargaan siswa terhadap kita. Kesampingkan itu semua terlebih dahulu.

Lakukan pekerjaan sebagai guru dengan hati yang mau melayani, iklas, dan tulus, lengkapilah dengan menjadi “teman” yang baik bagi mereka. Lupakan ego diri bahwa kita adalah orang dewasa dan guru; tetapi rendah hati dan belajarlah dari anak-anak.

Setelah lakukan itu semua maka percayalah perubahan akan terjadi, cinta akan didapat, dan apresiasi yang tulus pasti diberikan. Satu hal yang tidak boleh dilupakan, tetap tegas dan pastikan siswa tahu kesalahannya apa. Jika semua itu telah dilakukan, bersabarlah, beberapa tahun kemudian cinta dari mereka akan kita dapat, dan itu lebih bahagia daripada uang.

Guru bangsa sekalian ini hanya sharing, tidak bermaksud menggurui. Siapa saya, hanya seorang guru kampung yang lulus pun bukan dari perguruan tinggi ternama. Sekali lagi ini hanya sekedar berbagi, suyukur jika berfaedah dan abaikan saja jika tidak membawa manfaat. Apakah saya sudah melakukannya, jawabannya sudah. Apakah hasilnya ada, jawabanya iya tetapi belum maksimal. Sulit atau tidak melakukannya?; jawabanya SANGAT SULIT. Tetapi jika lakukan dengan hati maka akan berarti, Salam bagimu guru bangsa di mana saja mengabdi. (Makar admin blog Gubanesia)




0 Response to "Catatan Seorang Wali Kelas Edisi Kedua"