Kata Cinta Lewat Facebook Menghadirkan Masalah



Kata Cinta Lewat Facebook Menghadirkan Masalah
Kisah ini bermula dari akun face book dan foto profil ini

CAPE MAKAR: Hidup itu suatu perjalanan, setidaknya itulah refleksi dari seorang perantau macam saya. Penuh misteri yang terkadang agak sulit dimengerti secara nalar. Melalui jalan panjang, penuh liku, hingga menghadirkan ego diri yang bermuara pada tetesan air mata. Dari perjalanan hidup yang penuh liku itu, saya menemukan teman hidup (baca: Isteri) yang penuh cinta dan memberikan diri secara tulus padaku. Sebuah pengorbanan dan pengabdian diri dari seorang isteri yang mulia. Nama isteriku Vina Lamoren, gadis solor, Nusa Tenggara Timur; kelahiran Jakarta. Buah cinta dari almahrum Yosep Beko Lamoren dan ibunda Ceasilia (Cilacap-Jawa Tengah).

Perjumpaan kami, sepertinya agak sulit dipahami secara nalar; namun bagi para pecinta yang pernah merasa jatuh cinta, atau setidaknya pernah mengalami putus cinta pasti memahami lakon cinta yang kami perankan.

Akhir tahun 2009 kami saling mengenal, bukan bertemu langsung melainkan hanya lewat udara (baca: Face Book). Saya di Papua sebagai wartawan Tabloid JUBI (Jujur Bicara), sedangkan sang darah berada di Jakarta sebagai karyawan swasta.

Apakah saat itu kami pacaran?.

Jawabannya tidak. Kami masing-masing menghadirkan misteri. Entah itu melalui status face book atau komunikasi via udara (baca: telepon). Setelah menikah baru kami saling membuka diri, bahwa ternyata dia telah memiliki seorang kekasih dan saya hanyalah teman biasa baginya; sedangkan saya pun sama, hanya iseng dan juga telah memiliki seorang kekasih. Wah parah, tetapi itulah kenyataanya. Singkatnya kami hanya teman biasa, seperti kebanyakan orang di dunia maya.Saat itu.

Bagimana kami berjumpa?.

Cukup unik, sebagai seorang wartawan online setiap hari harus mengupdate berita. Suatu hari setelah mengirim berita, ya seperti hari-hari yang lain. Update status atau hanya sekedar menengok wara-wiri manusia di dunia maya melalui akun face book Martin Parera. Nama akun yang kusamarkan saat itu.

Ada sebuah akun face book yang menarik perhatian saya, sebenarnya bukan akun face book yang membuat saya tertarik, melainkan foto profil dari akun face book tersebut. Foto seorang anak laki-laki, kira-kira 2 tahunan, putih, bersih, ganteng. Intinya anak tersebut menarik perhatian saya. Akhirnya kuputuskan untuk berteman dengan akun face book yang bernama Vina lamoren dengan foto profil si bocah cakap, yang ternayat adalah Rafael Nandito Tielman. Anak dari Fransiska EmmaLamoren (adik kandung isteri saya Vina Lamoren).

Singkat kata singkat cerita, saya dan pemilik akun face book yang bernama Vina lamoren itu rajin bertukar tutur dan berbagi kisah tentang apa saja yang kami alami sepanjang hari yang telah kami lewati; tentunya setelah dikonfirmasi sang pemilik akun. Rutinitas seperti, komen, like status, dan segala macamnya nyaris tanpa absen. Entahlah sayapun tidak mengerti, mengapa demikian. Mungkin sudah jodonya kali, hehehe...”

Suatu hari entahlah apa yang mendorong saya sehingga memutuskan untuk menelepon gadis Solor kelahiran Jakarta tersebut. Sepertinya itu tidak penting untuk dibahas; yang menarik adalah suara sang darah di seberang sana. Tenang, halus, dan menyejukan jiwa. Sejenak kutertegun, hanya untuk mengatur napas karena tidak percaya bahwa suara di seberang sana begitu lembut bagiku. Singkat cerita komunikasi kami meningkat menjadi telepon dan sesekali melalui akun face book.

Jujur saya nyaman dengan gadis ini (Vina Lamoren); akhirnya suatu hari saya putuskan untuk katakan cinta. Tidak tanggung-tanggung kata cintaku kusampaikan lewat face book. Hal ini kupertegas agar sang darah yakin dengan keseriusanku, maka saat itu cinta dari ufuk Timor Indonesia sana kusampaikan langsung di dinding face book sang gadis manis bersuara lembut tersebut.

Apa jawaban yang kuterima?.

Tidak jelas. Mau katakan digantung juga sepertinya tidak tepat, mau katakan ditolak tetapi komunikasinya masih berjalan, walaupun intensitasnya tidak seperti dulu lagi. “wah parah ini bunuh diri namanya” pikirku kalut saat itu.

Di sisi yang lain, saya pun telah memiliki kekasih dan karena kegilaan yang bisa dibilang norak atau tidak tahu diri itu malah jadi masalah. Wanita yang menjadi kekasihku di Papua, nekat bunuh diri karena saya mengatakan cinta pada gadis bersuara lembut di seberang sana.

Ampun e, sebuah tindakan yang tidak dipikirkan terlebih dahulu malah menjadi masalah terberatku saat itu.

Sedangkan saat yang sama sebuah kabar mengejutkan datang dari tanah kelahiranku Maumere. Ibunda tercinta, Yuliana Noa di panggil Tuhan. Ampun ini dosa, karma atau hukuman apa. Semuanya kacau. Saat itu saya benar-benar berada pada titik nol. Titik nadir yang sejujurnya sulit untuk bangkit.

Bukan soal wanita Ende dan perempuan Solor (Vina Lamoren) yang kini menjadi isteriku yang membuatku pusing, melainkan kematian ibunda tercinta.

***

Entahlah sebulan kemudian saya memutuskan untuk berhenti jadi wartawan dan berusaha menenangkan diri. @Bersambung.  (Markar admin blog Gubanesia)


Baca juga:

Menjadi Istri yang Sebenarnya Sangat Sulit

***


Selanjutnya seperti apa kondisi saya setelah kematian ibu, bagimana kisah cintaku selanjutnya bersama Vina Lamoren. Benar bunuh dirikah gadis Ende yang juga mencintaiku itu. Nantikan kisah selanjutnya,....”

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Kata Cinta Lewat Facebook Menghadirkan Masalah"

  1. Cerita cinta yanh unik.
    Mana sambungannya yak, Mas Martin?
    ( belum kucari, he he..)

    BalasHapus
    Balasan
    1. adu mbak Umi, ini suatu apresiasi yang luar biasa. Seorang perias kata yang saya kagumi bersedia mampir. Sambungannya belum ditulis lagi mbak hehehee, tapi pasti ditulis. Salam ya mbak

      Hapus
  2. Cerita cinta yanh unik.
    Mana sambungannya yak, Mas Martin?
    ( belum kucari, he he..)

    BalasHapus