Gadis Malang

Gadis Malang
gambar ilustrasi, sumbernya dari sini KLIK
CAPE MAKAR:

Hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu. Ia seperti anak panah yang terus melaju. Sehingga jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan. 

Demikian penggalan syair mahakarya pujangga asal Libanon, Kahlil Gibran untuk anak-anak.

Sekiranya tepat untuk anak-anak zaman now. Anak-anak yang butuh sentuhan kasih sayang dan rasa aman dari kedua orang tuanya. Terutama di tengah hingar-bingarnya kehidupan sosial saat ini. Terkadang mereka bersuara, tetapi tak mampu bersuara. Mereka butuh pendidikan dan naungan. Kata si perajut kata, Timo Martin; seorang teman dan jurnalis hebat di bumi cenderawasih.

Ironisnya di tengah gemerlapnya kota metropolitan, anak-anak Jakarta ternyata masih dibelenggu oleh perasaan tidak didengar, apalagi dimengerti oleh orang tua. Dampaknya mereka ’berjuang’ sendiri demi mempertahankan hidup. Bahkan berjuang untuk mendapatkan sebuah rasa 'bahagia'; di rumahnya sendiri. 

Begitu pula dengan gadis paroh bayah di salah satu 'sekolah kehidupan' yang kujumpai hari ini. Sebut saja namanya, Mawar (bukan nama sebenarnya). 

“Bapak bisa jadi pendengar buat saya?”, katanya singkat.

Gadis ’malang’ ini sedari tadi duduk di anak tangga lantai 3, pada sebuah 'sekolah kehidupan'. Ia tak banyak berbicara, hanya nanar menatap hiruk pikuk pelajar yang lalu lalang. sekilas disapanya dengan senyuman khas kepada guru maupun pelajar lain yang melewati lorong itu tanpa secuil ekspresi. Tatapannya kosong, menerawang, entah kemana. Selintas pandang duduknya sopan dan rapi. Namun ternyata gadis cantik ini sedari tadi sedang menahan tangisnya. 

Ketika saya menyambanginya, tangannya menengadah dibarengi senyum renyah. Senyum yang penuh harapan agar saya bisa menjadi pendengar yang memahami pergolakan batin si gadis malang ini. 

Ketika ditanya 'ada apa"?

Tidak ada jawaban, sunyi di tengah keramain yang ada. Hanya tangisan perlahan-lahan membanjiri wajah cantiknya. "Saya ingin menahanya, tetapi lama-lama bisa membuat saya nangis pak" katanya datar tanpa kontak mata sekedip pun padaku. 

Tatapannya kosong pada tembok di depan sana. bukan fokus tetapi hanya kebetulan ada ruang hampa di hadapan gadis 16 tahun itu. Sunggu kejam melebihi teroris paling sadis, jika rumah bukan lagi tempat yang dirindukan oleh putra-dan putrimu. 

Usianya masih hijau, emosi masih labil dan sedang dalam pertumbuhan. Namun ia terpaksa melakoni peran kehidupan yang teramat berat. Kondisi keluarga justru membuatnya seperti itu. Sebenarnya ia pun ingin seperti anak-anak lainnya yang bergembira ria tanpa beban, hanya belajar dan membantu orangtua sebisanya. Naman kondisi keluarga memang tidak memungkinkan gadis malang ini mendapatkan bahagia itu.

Sekiranya seorang ibu bisa membuat rumah menjadi tempat yang dirindukan, dan seorang ayah melengkapi dengan 'taman firdaus' dalam rumahnya. Gadis malang itu pasti tidak seperti itu. Ia pasti berkonsenstrasi pada belajar. Bukan menangis seorang diri di anak tangga sekolah kehidupan hari ini.

Remaja putri ini berpacu bersama waktu dan bersaing dalam dunia yang sarat perubahan dan gejolak, semoga ada secercah harapan yang datang untukmu anak muda. Doa seorang guru kampung (Makar admin blog Gubanesia)


 Istana terindah adalah rumah dengan kehangatan keluarga.


Catatan perjalanan dan perjumpaan, 
22 November 2017, jam 11.30 WIB.  

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Gadis Malang"

  1. Sebuah karya yang menyentuh oleh seorang guru tentang muridnya. Ditunggu tulisan berikutnya. 👌

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nely terima kasih sudah mampir, mudah-mudahan

      Hapus
  2. Kondisi keluarga membuatnya seperti itu.
    Seperti itu yg bgmn? tentu ada penjelasan, sehingga kita bisa memberi saran, misalnya.
    Sebab saya pernah mengalami situasi yg membuat saya berontak.
    Ayah berpisah dg ibu, lalu masing-masing menikah lagi, punya anak lagi. Sibuklah mereka, terabaikanlah saya!
    Nah, itu hanya salah satunya.

    Salamku, Mas Martin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti itu yg bgmn? ini pertanyaan yang sulit mbak umi, tapi seperti yang mbak katakan orang tua sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga anak harus berjuang sendiri. Itulah jawabannya mbak, salam. Terima kasih sudah mampir mbak

      Hapus
  3. Kondisi keluarga membuatnya seperti itu.
    Seperti itu yg bgmn? tentu ada penjelasan, sehingga kita bisa memberi saran, misalnya.
    Sebab saya pernah mengalami situasi yg membuat saya berontak.
    Ayah berpisah dg ibu, lalu masing-masing menikah lagi, punya anak lagi. Sibuklah mereka, terabaikanlah saya!
    Nah, itu hanya salah satunya.

    Salamku, Mas Martin.

    BalasHapus