Keren SD Kelas 2 Sudah Merantau

Keren SD Kelas 2 Sudah Merantau
Gambar ilustrasi
Sumber foto Edi Ginting, lihat di sini

CAPE MAKAR: Judul tulisan ini seperti menipu para pembaca maafkan saya jika kesannya seperti itu. Awalnya saya ingin menulis judul seperti ini, “SD Kelas 2 sudah keluar dari Rumah” karena judul tersebut menggambarkan isi tulisan yang saya ceritakan. Namun saya berpikir judul tersebut kurang menarik jadi diganti seperti judul yang ada saat ini.

Mohon dimaklumi karena saya masih pemula dunia kepenulisan dan blogging. Baiklah pembaca sekalian, jika berkenan mari simak lebih lanjut catatan perjalanan saya di Papua berikut ini.

Sejujurnya saya tidak tahu atau tepatnya sudah lupa kenapa di usia 7 tahun dan masih SD kelas dua saya meninggalkan orang tua dan lebih memilih tinggal dengan orang lain. Namun seingat saya (muda-mudahan tidak salah), saat itu alasannya karena sekolah jauh dari rumah sehingga saya harus tinggal dengan kakak Man Parera. Masih saudara meski berbeda kampung.

Tinggal di rumahnya kakak man, saat itu beliau bujang banyak pelajaran yang didapat. Salah satunya belajar masak dan belajar melayani.

Hal ini bisa dimaklumi karena tempat tinggal kakak man menjadi tempat berkumpulnya anak muda perantauan dari timur (semuanya laki-laki). Semantar saya yang paling kecil di situ. Beli rokok, kopi, gula, dan aneka kebutuhan lain di kios (sebutan untuk warung, kata orang Jakarta) menjadi rutinitas saya hampir setiap hari.  

Melalui cara seperti ini secara tidak langsung saya belajar untuk melayani orang lain.

Kemudian situasi mengharuskan saya untuk bisa memasak. Sebenarnya cukup sulit bagi saya saat itu. Namun bertahan dalam situasi yang mengurangi waktu bermain saya sebagai anak kecil manfaatnya saat ini kurasakan. Setidaknya saya bisa masak, meski kata istri saya tidak enak itu bukan masalah yang serius, hehe. Selain itu saya pun belajar melayani, meski belum lulus sepenuhnya sebagai pelayan namun setidaknya saya belajar bagimana melayani orang lain.

Sunggu ini pendidikan yang tidak saya peroleh di bangku kuliah atau sekolah formal, tetapi perjalanan saya selanjutnya sebagai perantau saya bisa mandiri, (bukan mandi sendiri maksudnya), termasuk bisa masak, minimal untuk diri sendiri. Terima kasih kakak Man Parera dan situasi hidup yang telah mengajarkan saya pengalaman hidup yang sangat berarti.

Baca juga:


Masuk SD di Papua Hanya Papan yangKulihat Bukan Sekolah
 

Refleksi

1. Hidup tidak berjalan mundur, tidak pula berada di masa lalu, penggalan kata pujangga Libanon, Khalil Gibran itu seperti mengamini masa kecil yang saya alami dan kondisi terkini (sebagai guru di Jakarta). Dua kondisi yang sunggu jauh berbeda. Artinya saya ingin katakana apapun kondisi pembaca saat ini. Susah, masalah, atau situasi sulit yang lain; percayalah bahwa semua pasti berlalu karena hidup seperti roda yang berputar. Semuanya pasti lebih baik di masa depan JIKA MAU BERUSAHA DAN KERJA KERAS; dan tentunya tidak pernah lupa berserah kepada yang maha kuasa (baca: berdoa).

2. Kunci untuk sebuah perubahan adalah sabar dalam situasi sulit. Sabar hanyalah kata tanpa makna, dia akan bermakna jika kita bisa mempraktekannya dalam hidup. Semoga bermakna. (Makar admin blog Gubanesia).



Baca juga:



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Keren SD Kelas 2 Sudah Merantau"

Posting Komentar