Masuk SD di Papua Hanya Papan yang Kulihat Bukan Sekolah

 Masuk SD di Papua Hanya Papan yang Kulihat Bukan Sekolah
CAPE MAKAR: Pernah berseragam merah putih, khas anak SD di Detunglikong tidak terhitung karena meninggalkan Detunglikong kalau tidak salah sebelum penerimaan rapor. Jadi status pernah SD kelas satu tidak terhitung dan saya pun harus memulainya lagi dari nol. Mendaftar dan masuk SD di SD Inpres Tajah SP V, distrik Tajah Lereh, (sekarang namanya jadi Distrik Yapsi) Kabupaten Jayapura Papua.

Hari pertama masuk sekolah, sejujurnya saya bingung dan bertanya-tanya, “sekolahnya di mana si” karena kami berbaris di di depan bekas barak karyawan PT Kayu Lapis yang membuka lokasi transmigrasi. Sebuah kamp yang terbuat dari kayu seadanya saja.

Usai upacara pembukaan tahun ajaran baru barulah saya tahu kalau itu adalah sebuah sekolah. Sebuah kamp bekas tempat tinggal karyawan suatu perusahan.

Sunggu ironis pemerintah kita saat itu (tahun 1992), mendatangkan orang dengan judul transmigrasi tetapi sekolah tidak disiapkan. Untuk apa?, pemikiran ini muncul saat saya sudah menjadi guru dan mengajar di Jakarta.    

Baca juga:



Refleksi

Jangan langsung mempertanyakan, apa, mengapa, atau bagimana terhadap segala sesuatu yang mengganjal di hati. Simak, ikuti dan pelajari dulu. Setelah itu barulah simpulkan sebagai pandangan awal; selanjutnya tentang kebenaran pandangan yang seperti itu butuh konfirmasi lebih lanjut agar suatu pandangan tidak menjadi pertanyaan yang tidak pernah dijawab selamanya. (Makar admin blog Gubanesia)


Baca juga:





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Masuk SD di Papua Hanya Papan yang Kulihat Bukan Sekolah"

Posting Komentar