Dari Tajah Menuju Sentani: Perjalanan Studiku yang Pertama Bersama Bruder Feliks Kalakmabin, OFM

Hidup adalah perjalanan, jalani walau situasi cukup sulit untuk dijalani 
                                                     
Dari Tajah Menuju Sentani: Perjalanan Studiku yang Pertama Bersama Bruder Feliks Kalakmabin, OFM
Gambar ilustrasi/sumber gambar: UCAN Indonesia

Cape Makar: 6 tahun belajar di bangku SD, kini tibalah saatnya untuk memasuki tahap yang lebih tinggi yakni smp. Ataukah harus berhenti dan menjadi petani seperti kedua orang tuaku. Pilihan yg sebenarnya silit bagi saya.

Mau melanjutkan ke SMP ekonomi orang tua tidak mampu. Tidak ada usaha lain karena di hutan belantara seperti ini siapa yang hendak membantu anak miskin sepertiku. Akhirnya meski keinginan bersekolah sangat tinggi namun kuurungkan niat itu. Saya cukup tahu diri dengan ekonomi orang tua saat itu.

Pernah saat tidak mampu menahan diri kusampaikan niatku pada sang ayah untuk melanjutkan sekolah. Saat itu tidak ada respon yang kuterima dari ayah. Cukup tahu bahwa aku telah menyakiti hati ayahku.

Malamnya beliau memanggilku dan berkata ei dena daftar sekolah*. Uang recehan yang beliau simpan sebagai celengan diberikan padaku. Kurang lebih 500 ribu jumlahnya. Tenah ganupae*. Bapa hanya itu saja. Saya tahu dalam ketegarannya beliau menahan tangis kesedihan.

Uang itu kusimpan, dan malam itu juga sekitar pukul 07.00 saya keluar dari rumah menuju blok L tempatnya bruder*  Feliks Kalakmabin. Seorang imam Katolik yang bertugas di Taja SP V, Jayapura, Papua. Jaraknya sekitar dua kilo meter. Tidak peduli gelapnya malam, pokoknya saya harus sekolah, itu yang ada di benakku saat itu. Demi niatku itu saya tidak perduli apapun yang terjadi, pokoknya terus berjalan menuju kediaman bruder Feliks. Akhirnya sampailah saya di tempat bruder Feliks Kalakmabin OFM. Kusampaikan semua keinginanku. Namun sayang, tidak ada tanggapan seperti yang saya harapkan. Malah saya disuruh makan.

"Sudah makan sana dan pulang". kata bruder Feliks

Sesuatu yang tidak saya harapkan. Jujur saya sangat kecewa, rasanya ingin berterik. "adakah orang baik yang ingin membantu saya". Kurang lebih seperti itu gambarannya. Sedih, kecewa berpadu menjadi semacam amarah, tetapi tidak tahu kepada siapa harus dilampiaskan. Pada akhirnya dengan agak keceewa dan tidak ada niatan untuk makan segera kutinggalkan tempat itu sekitar pukul sepuluh malam.

*

Sampai di rumah melihat ayahku nampak diam, aku tahu beliau ingin menyekolahkanku tetapi kondisilah yang membuatnya tidak mampu berbuat apa apa. Daripada usahaku untuk sekolah menyakiti ayakku maka kuputuskan untuk menghentikan semua usaha itu. Toh tidak ada yang bisa diharapkan lagi. Jadi kukubur dalam - dalam niatku bersekolah.

**

Selang beberapa hari brider Feliks mendatangi rumah kami dan berbicara dengan ayah. Entahlah apa yang dibicarakan?, intinya saya diminta siap agar besok ke ke Sentani untuk mendaftar SMP. Bukannya bahagia saya malah bingung.

Daftar pakai apa? sebab uang yang diberikan telah kukembalikan lagi kepada ayah untuk membayar utang. Beli baju seragam pakai uang apa dan berbagai pertanyaan yang lain. Termasuk tinggal dengan siapa?.

Pertanyaan - pertanyaan itu agak mengganggu. Namun melihat perubahan raut wajah ayah tercinta. Dari sedih berubah menjadi semacam bahagia, kutahu pasti ada jalan dan harapan.

Sana siap - siap besok berangkat. Kata kata ayah mengagetkanku. Akhirnya saya pun berkemas. Tak sabar menanti esok hari.

***

Perjalanan Merai Gita dan Cita Seorang Anak Kampung

Perjalanan awal meraih cita menghadirkan sensasi yang tiada tara. Entah apa yang terjadi saya pun tidak mengerti; yang kutahu dan kuingat. Bahagia itu hadir, setelah mendengar saya akan melanjutkan sekolah di Sentani, Kabupaten Jayapura.

Malam itu saya tidak bisa tidur. Menanti sensasi naik mobil setelah 7 tahun lamanya. Membayangkan kota dengan aneka gemerlapnya setelah 7 tahun. Namun yang lebih sensai adalah membayangkan saya jadi anak SMP. Sesuatu yang seperti mimpi menjadi nyata.

****

Perjalanam panjang dan cukup melelahkan, melewati hutan dan jalan yang berkelok dengan kondisi jalan yang jauh dari kata bagus. Semuanya mengantarkan ku pada satu tujuan melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.

Singga di Nimbokarang, sebuah tempat yang menyediakan rumah makan yang biasa melayani sopir bus. Di Jakarta dikenal dengan sebutan rest area.

Saya dan brider Feliks pun bersantap. Seperti kebanyakan orang - orang yang lain. Sejam kemudian kami pun harus melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan.


Sentani Tempat Studiku yang Pertama

Perjalanan dari Nimborang menuju Sentani lumayan baik kondisi jalan yang kami lalui. Untuk ukuran kami di timur sana jalan yang sudah beraspal, walau jauh dari kata ideal, bagi kami itu sudah lebih baik daripada tidak diaspal sama sekali.

Situasi tersebut membuat saya pun tertidur karena lelah menempuh setengah perjalanan dari Tajah menuju Nimbokrang.

*****

Bangun martin. Bruder yang baik hati itu membangunkanku. Masih segar dalam ingatan, saat itu kami turun di biara St Antonius Padwa Sentani. Tempat bruder Feliks dan Komunitas Fransiskan Papua melayani masyarakat di bumi cenderawasih dan sekitarnya. Saya pun disuruh makan. Mandi dan istirahat. Saat itu sekitar pukul 15.00 WIT. Sunggu tempat yang sejuk dan nyaman Biara Antonius. Saya pun berkenalan dengan bruder, suster, dan pastor di biara itu.

Sekitar pukul 17.00 WIT bruder mengajak ke pasar sentani. Beliau membeli semua keperluanku dengan uang pribadinya. Mulai seragam hingga sabun mandi. Betapa mulainya sosok itu bagiku.




Refleksi


Hidup adalah perjalanan, jalani walau situasi cukup sulit untuk dijalani. Saat engkau berhenti karena kesulitan selama perjalanan maka 'selesai' sudahlah tujuan dan harapan. 
Usaha dan kerja keras tidak akan menghianati hasil akhir; yang dibutuhkan hanyalah kesabaran dan bangun kembali saat terjatuh dan terus berjalan menuju tujuan.

Keterangan


*ei dena daftar sekolah: dalam Bahasa Maumere, Flores NTT yang artinya ini (uang) buat daftar sekolah.
*Tenah ganupae artinya mau buat bagimana (bahasa Maumere, Flores, NTT)
*Bruder: sebutan untuk imam katolik, selain pastor, suster, atau romo ada yang disebut bruder

Subscribe to receive free email updates: